Book Review : Critical Eleven by Ika Natassa

Baiklah… kali ini gw akan ngebahas tentang salah satu novel dari penulis kesayangan yaitu Critical Eleven nya kak ika natassa. Kebetulan novel ini sudah diadaptasi ke layar lebar dan masih tayang di bioskop loh! Jadi yang belum nonton buruan deh nonton!

Anyway, Sebetulnya gw udah baca novel ini dari pas pertama terbit, Alhamdulillah gw menjadi salah satu org yang beruntung untuk ngedapetin edisi special nya.. gw masih inget banget, waktu itu novel ini sampe rumah pas bulan puasa, dan gw harus nahan banget biar ga nangis Bombay, karena yah kan ga boleh berlebihan ya pas bulan puasa…

4_BI6umE2H

Pas awal baca, gw da jatuh cinta sama novel ini, karena gw ga sangka kak ika bakal mengambil tema seperti ini, I mean walau gw belum berumah tangga, gw kayak bisa ngerasain perasaan anye dan ale.

49ITDqmE8i

Nah,,, pas gw tau film nya akan segera tayang, gw pun langsung baca ulang novelnya, lumayan buat nge-refresh ingatan, walau gw tahu, hal ini akan menjadi boomerang bagi gw sendiri, kenapa? Karena gw tipikal yang akan membandingkan novel dengan filmnya, dan hal ini bisa jadi negative point tersendiri..

Baiklah, daripada gw kebanyakan curhat mending gw cerita sedikit tentang novel ini…

Sinopsis (From Goodreads)

IMG_20170512_081253_529

Original Title : Critical Eleven

Paperback, 344 pages

Published August 10th 2015 by PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN13 : 9786020318929

Edition Language : Indonesian

Literary Awards :

Anugerah Pembaca Indonesia for Sampul Buku Fiksi Terfavorit DAN Nominasi Buku dan Penulis Fiksi Terfavorit – Shortlist (2015)

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Short Review

Awalnya gw pikir, karena ini tentang ‘risjad’ gw bakal baca cerita cinta tentang how this good guy trying to get his lover… belum sampai tahap pernikahan..

“Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita.”

Tapi ternyata.. baca critical eleven kita kayak dibawa menuju masa lampau dan masa saat ini.. flashback… and it’s so good..

Gw tetep nangis walau udah baca novel ini dua kali. *deep sigh..

Berkali2 mata berkaca-kaca… sepanjang baca buku ini.. beneran sedih rasanya.. dan kepikiran.. gimana ka ikanatassa bisa kepikiran cerita kayak gini hehehe..

And after I read it.. i totally learned too many things..

Gw suka dengan sosok ale yang tenang dan kalem, hingga akhirnya dia mendapatkan cinta nya. Gw suka cara dia untuk tetap teguh mempertahankan istrinya, yah well walau ia jatuh cinta hanya dalam 11 menit, tapi bukan berarti cinta itu ga bisa berakhir untuk selamanya kan? Ale is a good man…

“Dengan kamu, aku sudah bakar jembatan, Nya. I’ve burned my bridges. There’s no turning back. There’s only going forward, with you.”

Tapi sesempurna apapun ale ini, tetep dia adalah seorang manusia yang ga luput dari kesalahan, karena sebuah kalimat ia nyaris menghancurkan rumah tangga nya sendiri…

Dan anya… gw berasa paham posisi dia, walau gw belum nikah, belum pernah hamil.. tp rasanya kehilangan darah daging sendiri pasti sedihnya luar biasa ya,,, apalagi disaat butuh dukungan, tapi sang suami malah menyalahkan dirinya… pasti sakit… dan gw paham kenapa dia sampe seperti itu..

“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.”

Hiburan banget bagi gw ngeliat si tengil harris risjad ada disini,,, walau seperfect apapun ale,, tetep harris itu nomor satu buat gw hahahaha..

Satu hal lagi, bukan ka ika namanya, kalau nulis sebuah buku tanpa Quote-Quote yang apik dan kece banget… di Critical eleven pun banyak banget kalimat yang quoteable loh!

“Some wish remains a wish for as long as we live. Bukan karena kita kurang berusaha, namun karena memang sudah begitulah takdirnya.”

Anyway, gw udah nonton film nya, and it’s also good… dengan semua actor dan actress yang luar biasa, novel ini semacam dihidupkan ke dunia nyata… walau ada beberapa perubahan di dalamnya, tapi tetep film nya juga worth it untuk ditonton =]

Mumpung film ini masih ada di bioskop.. yukkk nonton yukk… jangan sampai menyesal loh!

Advertisements

2 thoughts on “Book Review : Critical Eleven by Ika Natassa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s