Book Review The Sun is Also a Star by Nicola Yoon

Ga kerasa ya, hari ini sudah hari ke-9 berpuasa, udah nyaris sepertiga Ramadhan pertama! Gimana puasa kalian? Lancar kah? Kalau saya Alhamdulillah lancar,, semoga bisa full 1 bulan ya…. Oke, kali ini saya mau ngebahas sedikit salah satu novel karangan Nicola yoon yang beberapa waktu lalu diterjemahkan oleh penerbit spring… yak apalagi kalau bukan “The Sun is Also a Star”.

Novel ini merupakan karya kedua Nicola Yoon yang saya baca, sebelumnya saya sudah baca Everything-Everything yang sudah difilmkan tapi sayang ga jadi tayang di Indonesia! Dan sungguhan suka banget sama novel itu.. jadi ketika The Sun is Also a Star diterjemahkan, saya langsung excited, berharap novel ini se apik Everything-Everything…  so.. yuk kita intip sedikit…

Sinopsis

IMG_20170519_080827_146

Original Title The Sun Is Also a Star

Paperback, 484 pages

Published April 13th 2017 by Spring (first published November 1st 2016)

ISBN 6026044361 (ISBN13: 9786026044365)

Edition Language Indonesian

Setting New York City, New York (United States)

Literary Awards

Goodreads Choice Award Nominee for Young Adult Fiction (2016), Coretta Scott King/John Steptoe New Talent Author Award (2017), Michael L. Printz Honor (2017)

Natasha, gadis kelahiran Jamaica yang percaya pada Sains. Baginya Sains adalah segalanya. Ia tidak percaya pada Takdir.

Daniel, lelaki keturunan Korea yang sangat puitis dan percaya bahwa takdir itu ada.

Kedua remaja dengan perbedaan pandangan itu bertemu. Secara tak sengaja,,, atau mungkin disebut takdir? Pertemuan itu membuat Daniel jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Natasha, ia percaya, bahwa semesta dan takdir telah mempertemukan mereka. Ia percaya bahwa mereka ditakdirkan bersama.

Sebaliknya, Natasha menolak untuk percaya takdir. Ia berpikir semua hanyalah sebuah kebetulan. Ia tak ingin berharap terlalu banyak, pada apapun, terutama pada Cinta. Selagi hidupnya… masa depan nya dipertaruhkan karena kesalahan sang Ayah, ia tak mau menggantungkan hidup pada takdir.

Lalu apa yang akan dilakukan Daniel untuk meyakinkan takdir itu nyata? Tapi apakah sesungguhnya takdir itu ada… ataukah memang benar pendapat Natasha, bahwa yang ada hanyalah sebuah kebetulan belaka?

Manusia adalah mahluk yang tidak masuk akal. Bukannya diatur oleh logika, kami diatur oleh emosi. Dunia akan menjadi tempat yang lebih bahagia kalau yang berlaku adalah kenyataan yang berlawanan.

Review

Baiklah… novel ini mengisahkan tentang bagaimana seseorang dapat jatuh cinta pada pandangan pertama.. manis bukan?

Aku tahu sekarang, itu benar-benar sebuah pertanda, dan aku serius tentang mengikuti arah angin hari ini. Aku ingin tahu semua ini akan mengarah kemana.

Harusnya demikian… tapi ternyata keseluruhan kisahnya tidak semanis itu, bahkan tergolong biasa aja. Duh, kalau dibandingkan dengan Everything Everything, the Sun is Also a Star ini Nampak biasa saja.

Atau karena ekspektasi saya yang terlampau tinggi?

Sebenernya saya suka dengan tema nya tentang takdir. Tapi entah kenapa, pada awalnya terlalu dipaksakan, terlalu banyak kebetulan… tapi mungkin memang takdir berjalan seperti itu ya?

Ada pepatah jepang yang kusukai. Koi No Yokan. Pepatah ini bukan berarti cinta pada pandangan pertama, tapi lebih mirip cinta pada pandangan kedua. Itu adalah sesuatu yang kau rasakan ketika kau bertemu dengan seseorang yang akan membuatmu jatuh cinta pada mereka. Mungkin kau tidak langsung mencintai mereka, tapi kenyataan bahwa kau akan mencintai mereka tidak bisa dihindari.

Di novel ini, aka nada BANYAK sekali POV, yang jujur malah membuat saya bosan. Kenapa? POV nya bukan hanya dari Tokoh utama, atau tokoh hidup lain nya, tapi bahkan benda mati? Ilmu? Teori? Juga jadi POV.. sisi positif nya, kita jadi tahu banyak detail teori yang ingin diungkapkan oleh penulis. Tapi jika kebanyakan, entah kenapa jadi terkesan buang-buang kertas #eh.

Dan yak sama seperti sebelumnya, endingnya terkesan dipercepat,… padahal harusnya masih bisa dikembangkan dengan mengurangi-mengurangi pov yang kurang penting itu.

Ketika Natasha memikirkan tentang cinta, inilah yang ada dalam pikirannya, tidak ada yang abadi. Seperti hydrogen-7 atau Litimu-5 atau boron-7, cinta memiliki waktu paruh yang kecil tak terhingga, sehingga akan membusuk menjadi ketiadaan.

Sama seperti sebelumnya, sang penulis masih menjadikan remaja kulit hitam sebagai tokoh utama nya, dan yang lebih oke nya, kali ini dipasangkan dengan remaja korea. Saya suka sih konsep ini.

Selain itu kelebihan novel ini, ada beberapa kalimat yang quoteable banget.. dan… saya suka sama cover nya, baik cover asli atau cover Indonesia.

Dari segi terjemahan tidak ada masalah sih, semua oke oke aja,

Kesimpulan? Novel yang manis untuk kalian yang percaya akan kisah Love at The First Sight, tapi dari segi cerita kurang dapat memenuhi ekspektasi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s