Book Review : Ayat-Ayat Cinta 2 by Habiburrahman El-Shirazy

Pernahkah kalian mempunyai suatu timbunan dan akhirnya memutuskan buru-buru membacanya karena terdorong oleh satu dan lain hal? Yah itu lah yang terjadi pada saya ketika saya bertekad untuk menyelesaikan Novel Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC 2) satu setengah hari sebelum menonton filmnya.

Jujur pada awalnya saya belum ada rencana untuk membaca Novel ini (dan menonton filmnya) karena saya lebih ingin untuk membaca A Torch Againts Night  nya Sabaa Tahir. Namun ternyata (Alhamdulillah) saya memenangkan satu buah tiket nonton film AAC 2 dari HijabbersCommunity dan saya punya prinsip bahwa saya akan membaca novel nya terlebih dahulu sebelum menonton filmnya. Jadilah saya mencari-cari novel ini di rak buku dan langsung memulai baca 1,5 hari sebelum menonton filmnya. Dari situ saya berpikir apakah mungkin menyelesaikan novel setebal 697 halaman dalam waktu sesingkat itu? Lagi-lagi Alhamdulillah dengan tekad yang kuat ditambah waktu libur yang saya habiskan hanya dirumah membuat saya fokus untuk membaca dan menyelesaikan novel ini dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Oh ya… ternyata saat membaca novel ini, saya baru sadar saya telah membeli nya dari Desember 2015 tapi Qadarallah baru bisa dibaca pada Desember 2017.. itulah… The Power of Timbunan #Eh. Okelah ga usah berlama-lama, mari lah kita ulas sedikit.

20171227_163232_Richtone(HDR)

Sinopsis  (Dikutip dari Goodreads)

Ayat-Ayat Cinta 2 (Ayat-Ayat Cinta #2)

by Habiburrahman El-Shirazy

Paperback, 698 pages

Published November 2015 by Republika

Original Title  :Ayat-Ayat Cinta 2

ISBN13 9786020822150

Edition Language : Indonesian

Series : Ayat-Ayat Cinta #2

Fahri, yang kini tinggal di Edinburgh dan bahkan menjadi dosen di University of Edinburgh, terpaksa menjalani ke hidupan sehari-harinya sendirian. Bersama dengan Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarah Turki, ia meneruskan kehidupannya tanpa Aisha.

Terkadang Fahri masih saja menangis saat mengingat kenangan-kenangannya bersama Aisha. Kenyataan bahwa istri yang sangat dicintainya itu kini menghilang entah kemana, membuatnya nelangsa dan hampir putus asa. Maka ia menghabiskan hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan pekerjaan, penelitian, mengajar, dan bisnis yang dulu dikelola berdua bersama Aisha.

Aisha menghilang dalam sebuah perjalanan ke Palestina bersama teman wanitanya saat ingin membuat cerita dan reportase tentang kehidupan di sana. Teman Aisha ditemukan dalam keadaan sudah kehilangan nyawa dan kondisi tubuh yang mengenaskan dan sangat mungkin kondisi Aisha juga sama meski tubuhnya belum ditemukan saat ini.

Sudah lebih dari dua tahun Fahri berduka dan tenggelam dalam usaha pencarian istri yang sanagat dicintainya itu. Ia pun pindah ke Edinburgh karena itulah kota yang sangat disukai Aisha di dataran Inggris. Dengan menyibukkan dirinya, ia berusaha menyingkirkan rasa sedihnya sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri dunia pertama itu. Ia berbuat baik pada tetangganya, menyebarkan ilmu agama pada berbagai pihak, dan membantu orang-orang yang butuh bantuannya tanpa memandang bulu.

Berbagai kegiatan menyibukkan dirinya, hingga sebuah pertanyaan mengusik datang dari berbagai pihak. Akankah ia membujang seumur hidup setelah ditinggal Aisha? Akankah ia bertemu dengan istrinya itu sekali lagi?

 

Review

Saat pertama tahu Ayat-Ayat Cinta akan dibuat sekuel nya jujur saya agak terkejut, karena berpikir apalagi yang mau diceritakan ? kisah cinta fahri lagi? Ah… rasanya terlalu membosankan. Itulah yang membuat saya enggan untuk langsung membaca novel ini begitu membelinya.

Tapi karena dorongan yang saya ceritakan sebelumnya, mau tak mau saya berusaha mengumpulkan semangat untuk membacanya. Dan…. Ternyata… kisah ini masih semenarik kisah di buku pertamanya.

AAC 2 masih berkisah tentang Fahri sang idola wanita semua orang. Seorang pria yang begitu sempurna untuk kondisi kehidupan dunia saat ini. Namun, AAC 2 tidak hanya berputar-putar pada kisah cinta fahri, ada yang lebih luas dari itu. Saya kagum bagaimana novel ini membuka mata saya, melalui pengetahuan-pengetahuan akan islam dan agama lain yang tertuang pada setiap bab nya. Kita diajak untuk memahami konflik abadi antara yahudi dan moslem. Kita diajak untuk meningkatkan sisi kemanusian kita. Dan semua dikisahkan nyaris begitu detail, tak heran novel ini menghabiskan 698 halaman untuk menyelesaikan seluruh kisahnya.

“Sekali Nafsu itu kau manjakan, maka nafsu itu akan semakin kurang ajar dan tidak tahu diri. Jangan pernah berdamai dengan nafsu!”

Fahri yang dulu hanya seorang mahasiswa miskin yang hidup di mesir kini telah berubah menjadi seorang pengusaha sukses di Inggris, dan juga dosen di sebuah universitas ternama. Fahri masih tetaplah Fahri yang ringan tangan untuk membantu orang-orang disekitarnya, baik itu yang seiman, atau tidak.

“Terkadang apa yang kita tidak sukai itu ternyata baik dimata ALLAH, dan terkadang apa yang kita sukai tidak baik di mata ALLAH. Meskipun yang kita inginkan adalah kita meraih apa yang kita sukai dan sekaligus juga disukai oleh ALLAH dan baik menurut ALLAH”

Sebuah perbedaan utama pada kisah dibuku kedua ini adalah pergulatan batin Fahri ketika kehilangan seorang isteri yang begitu ia cintai, Aisha. Jujur saya bertanya-tanya apa yang terjadi pada Aisha, apakah saya terlewat saat membaca kisah di akhir buku pertama? Namun tidak. Ternyata kisah Aisha ini diceritakan secara perlahan di novel ini. menarik.

“ Kalau ia tidak bisa menjadi orang yang memancarkan keindahan cahaya Islam, ia berharap tidak menjadi orang yang menghalangi cahaya Islam”

Banyak pelajaran dan ilmu yang saya dapatkan dari novel ini, namun ada juga kekurangan yang menganggu saya ketika membacanya. Salah satu nya adalah Banyaknya TYPO pada novel ini. mungkin sang editor juga agak pusing ya mengedit novel setebal ini. tapi sungguh TYPO nya bahkan menyangkut nama, dari Fahri menjadi Fahmi, dan ini tidak terjadi sekali namun berkali-kali sehingga sangat menganggu.

Kemudian, mungkin memang khas sang penulis, tapi saya agak bosan dengan penjelasan yang terlalu detail tentang setiap hal yang terjadi pada Fahri ini. seperti dia makan apa, siapa saja yang tinggal disekitarnya dan masih banyak lagi. Memang detail cerita itu penting, namun apabila terlalu detail juga sangat membosankan.

Dan yang terakhir, saya agak kecewa dengan akhir kisahnya.. sayang saja kisah cantik dari awal AAC 2 harus di akhiri dengan ending seperti itu… tapi ya dibalik itu semua, AAC 2 tetap menarik untuk dibaca.

Ah.. jadi penasaran seperti apa filmnya =]

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s