Book Review : Credit Roll of The Fool #Hyouka #2 by Yonezawa Honobu

3

Adakah yang membaca Hyouka ? atau menonton filmnya?

Teruntuk fans nya Yamaken, pasti sudah nonton filmnya kan? Wah jadi melenceng… oke kali ini saya mau sedikit membahas kelanjutan kisah dari Hyouka, atau yang diberi judul Credit Roll of The Fool. Bagaimana ya kelanjutan kisah Oreki dkk yang ditulis oleh Yonezawa Honobu ini?

 IMG_20181025_173006_136

Sinopsis (Dikutip dari Goodreads)

Paperback, 252 pages

Published May 2018 by Haru Media (first published July 31st 2002)

Original Title : 愚者のエンドロール

ISBN13 : 9786026383501

Edition Language : Indonesian

Series : Kotenbu Series #2

Oreki Hotaro lagi-lagi terseret oleh rasa ingin tahu Chitanda Eru. Melawan keinginannya, kali ini Hotaro harus menebak penyelesaian skenario naskah film misteri kelas 2-F yang akan ditayangkan saat Festival Kanya nanti.

Seorang siswa terjebak dalam kamar tertutup bangunan terbengkelai, mati setelah tangannya terpotong. Namun, siapa yang membunuh? Bagaimana caranya? Film itu selesai begitu saja tanpa penjelasan. Hotaro-lah yang bertugas untuk menebak siapa ada bagaimana trik pembunuhan itu dilakukan.

Namun, hanya itukah masalahnya?

Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar menyelesaikan skenario film?

Review

Jujur, saya bingung harus menuliskan apa di review kali ini. Saya bukan tipikal penggemar kisah misteri, sehingga sedari awal ketika membaca kisah misteri saya memerlukan sedikit usaha ekstra. Yah, walau saya termasuk jarang membaca kisah seperti ini.

Di buku kedua ini, kisah klub sastra klasik masih berlanjut. Oreki masih dengan prinsip “Praktis” nya. Namun lagi-lagi karena Chitanda lah Oreki (lagi-lagi) menyetujui untuk menyelesaikan sebuah kasus.

“Entah sudah keberapa kalinya, kalau Chitanda yang jadi lawanku, aku jadi tidak bisa berkutik.”           

Kali ini kasusnya lebih berat, karena Oreki dkk dituntut untuk menyelesaikan kasus pembunuhan tertutup, walau hanya didalam sebuah film yang naskahnya belum selesai.

Jika dibandingkan buku sebelumnya, kisah di buku kedua ini memang lebih rumit. Jadi butuh berpikir ekstra keras untuk menyelesaikan kasusnya. Bahkan untuk Oreki sekalipun.

Kali ini mereka tidak akan memecahkan masalah dengan diskusi internal antara Klub Sastra Klasik saja, namun juga berinteraksi dan berdiskusi dengan para kakak kelas yang terlibat baik secara langsung dan tidak langsung dalam memproduksi film tersebut.

Namun apakah semudah itu?

Walaupun saya mengatakan kisah di buku kedua ini lebih rumit, namun entah kenapa, saya jauh lebih menyukai buku pertama, mungkin karena lebih fun? Dan tidak perlu berpikir ekstra keras? Entahlah. Saya banyak bertanya-tanya, mengapa kisahnya serumit itu? Harusnya bisa diselesaikan dari awal? Tapi ternyata saya tertipu juga pada twist yang ada, hehe…

Oreki tetaplah oreki dan chitanda tetaplah chitanda.

Akhir di buku ini kembali menggantung, saya jadi bertanya-tanya bagaimana kelanjutan kisahnya ya? Misteri apalagi yang akan chitanda ‘serahkan’ pada Oreki?

Book Review : Hello Salma #DearNathan #2 by Erisca Febriani

0

Masih ingatkah, Tahun lalu, saya pernah mengkritik keras sebuah novel yang menurut saya Overrated? Dan terlebih, plot kisahnya yang begitu mirip dengan salah satu novel fav saya? Iyap, novel yang saya kritik itu adalah Dear Nathan,

Beberapa waktu lalu, sang penulis, Erisca Febriani, merilis sekuel dari Dear Nathan, dan kali ini diberi judul Hello Salma.. uhmmm….

Saya kembali hadir sebagai tim baca dulu baru nonton pun penasaran, bagaimana ya kisah kelanjutannya. Alhasil saya memutuskan untuk membeli buku ini dan membacanya terlebih dahulu sebelum nanti menonton kelanjutan filmnya.

IMG_20181020_185637_904

Sinopsis (dikutip dari goodreads)

Paperback

Published March 2018 by Coconut Books

Original Title : Hello Salma

ISBN13 9786025508233

Edition Language : Indonesian

“Kata ‘putus’ sedemikian gampangnya keluar dari mulut kamu?
Emang saya yang terus berjuang, tapi yang diperjuangkan juga jangan seenaknya”. Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir Nathan setelah tahu Salma dengan mudah memutuskan hubungan mereka. Merasa kalau perjuangan cintanya tidak dihargai Salma, Nathan memilih pergi dan pindah ke sekolah baru karena sebuah masalah.

Kehidupan Salma sepeninggal Nathan pun terasa membosankan dan melelahkan, apalagi orang tuanya menuntut dia untuk selalu belajar agar masuk ke fakultas kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya.

Sementara itu, disekolah baru, Nathan bertemu dengan seorang gadis tertutup korban perundungan akibat status-status menyedihkan yang ditulisnya di media sosial. Rebbeca, gadis itu mengingatkannya pada ibunya.Dia bertekad menyelamatkan gadis itu dari keterpurukan.

Bagaimana kisah Salma dan Nathan selanjutnya? Apakah takdir akan menggariskan tangan mereka kembali bertautan atau justru berbaik arah?

“Di kepala saya ada kamu terus. Tapi nggak apa apa, kamu tetap di sana aja. Jangan kemana-mana . temani saya ya”

Review

Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tapi jujur saya tidak menyangka kalau saya akan menyukai sekuel Dear Nathan ini… *deep Sigh

Setelah sebelumnya saya kritik karena ada beberapa kekurangan pada karya pertamanya, Dear Nathan, kali ini sang penulis mampu membuktikan bahwa ia mampu berkembang (bukan karena kritikan saya juga sih) ke arah yang lebih baik tentunya.

“Sekalipun dia berlari, tetap tidak akan terkejar jika semesta dan waktu tidak berbaik hati”

Terlihat sekali, sang penulis lebih matang dan lebih rapi (?) dalam menuliskan kisah keduanya ini. saya suka pengembangan ceritanya yang lebih dewasa. Kalau sebelumnya banyak sekali keanehan, maka disini yang ada sedikit kekaguman saya. Terutama dengan fakta bahwa, sang penulis mengangkat tema Mental Ilness di dalam sekuel ini.

“Ketika kamu berpikir kalau hidupmu tidak berguna, itu adalah racun”

Tidak hanya pengembangan cerita yang cukup baik, namun pengembangan karakter setiap tokohnya juga patut diberi poin lebih. Nathan yang sebelumnya begitu menyebalkan dan menurut saya tindakannya kurang Make Sense kali ini memiliki sifat yang lebih dewasa. Sementara Salma? Saya suka bagaimana sang penulis berani untuk memutar balikkan karakter Salma hingga menjadi seperti itu. Ditambah kejadian seperti Salma memang banyak terjadi di masyarakat.

“Males jadi orang pintar. Orang pintar itu terlalu serius, hidupnya ambisius. Hidup kayak gitu bikin capek, kayak hidup dalam arena balapan”

Ada beberapa tokoh baru di sekuel ini, salah satunya merupakan tokoh yang cukup sentral, walau sangat disayangkan konklusinya tidak begitu maksimal untuk tokoh ini.

Sementara, untuk tokoh baru lainnya, yaitu Ridho, saya sangat menyayangkan bahwa eksekusinya tidak maksimal, harusnya tokoh Ridho ini bisa menjadi lebih, namun tidak dimaanfaatkan dengan baik oleh penulis.

Yang pasti saya suka dengan kisahnya yang tetap manis dan tidak terlalu memaksa. Oh ya, Less Typo juga.

Keep up The Good Work!

Book Review : Rich People Problems #CrazyRichAsians #3 by Kevin Kwan

0

Akhirnya kita tiba di kisah penutup, saya begitu penasaran bagaimana konklusi dari seluruh problematika keluarga kaya ini, apakah berakhir bahagia ataukah sebaliknya? Well, satu-satunya jalan adalah dengan membacanya secara langsung.

IMG_20181001_201622_321

Sinopsis (Dikutip dari Goodreads)

Paperback, 480 pages

Published February 12th 2018 by Gramedia Pustaka Utama (first published May 23rd 2017)

Original Title : Rich People Problems

Series : Crazy Rich Asians #3

ISBN13 : 9786020380926

Edition Language : Indonesian

Ketika mendengar bahwa neneknya, Su Yi, sakit keras, Nicholas Young bergegas pulang—namun ia tidak sendirian. Keluarga Shang-Young dari seluruh penjuru dunia ikut berkumpul, seolah akan merawat sang nenek tapi sebetulnya ingin memperebutkan harta melimpah yang dimiliki Su Yi.

Semua anggota keluarga diam-diam mengincar Tyersall Park—lahan premium di jantung Singapura. Tempat itu pun menjadi penuh intrik dan tahu-tahu Nicholas dilarang masuk ke sana.

Sementara keluarganya memperebutkan warisan, Astrid Leong berada di pusat badai yang berbeda: ia jatuh cinta pada kekasih lamanya Charlie Wu, tapi diganggu mantan istri Charlie, yang bertekad menghancurkan hubungan dan reputasi Astrid. Sementara itu, Kitty Pong, yang menikah dengan miliuner Jack Bing, mendapatkan lawan yang seimbang, yaitu Colette, putri tirinya.

Review

Nenek Shang Su Yi yang perkasa itu akhirnya jatuh sakit, Rachel berusaha membujuk Nick untuk pulang, berbaikan dengan sang Nenek yang telah membesarkannya. Pada awalnya Nick enggan untuk kembali ke Singapore mengingat perlakuan sang Nenek pada Rachel. Namun pada akhirnya Nick memutuskan untuk kembali.

“Memaafkan adalah hadiah bagi diri kita sendiri”

Di seri terakhir ini, konflik yang ada semakin panas. Dengan sakitnya Nenek Su Yi, problematika keluarga Shang dan Young pun semakin nyata. Semua orang berasumsi dan menduga-duga, apakah sang nenek menulis surat wasiat? Akan jatuh kepada siapakah seluruh kekayaannya?

“Aku rasa  orang tidak pernah menyadari kehilangan mereka sampai sudah terlambat”

Kisah di seri terakhir ini tidak memulu mengenai keluarga Shang dan Young, namun juga tentang Kitty Bing. Pada awalnya saya merasa, kisah Kitty ini terlalu berlebihan, dan tidak perlu. Terlalu banyak Kitty, saya hanya ingin fokus pada keluarga Shang dan Young. Namun ternyata, sosok Kitty ini mengalami pengembangan karakter yang terbilang sangat baik, dimana ia menjadi kunci untuk mengatasi suatu problem.

“Jika seorang pria tidak bisa menerima dirimu apa adanya, dia jelas tidak layak mendapatkanmu”

Kehidupan Nick dan Rachel rasanya sudah tidak terlalu memiliki issue yang mendalam. Yang menjadi fokus di seri ini (selain Kitty) adalah kisah antara Charlie Wu dan Astrid Leong. Saya suka pada keduanya, dan saya suka bagaimana mereka berusaha mengatasi seluruh konflik yang ada.

Pada akhirnya, keseluruhan kisah di seri orang kaya ini memiliki pesan yang cukup mendalam, terutama tentang pentingnya keluarga. Wow, saya tidak menyangka dengan twist akhir yang dibuat oleh penulis. Benar-benar indah, sungguh alami dan tidak memaksakan.

Saya akan rindu pada series ini. begitu banyak pelajaran yang bisa diambil. Semoga saja filmnya dilanjutkan, agar kita semua bisa melampiaskan rindu kepada semua tokohnya.

Book Review : China Rich Girlfriend #CrazyRichAsians #2 by Kevin Kwan

0

Astaga series ini memang racun, kemarin ketika saya belum berhasil menamatkan buku pertama Crazy Rich Asian, tanpa berpikir panjang saya langsung membeli seri kedua dan ketiganya yakni China Rich Girlfriend dan Rich People Problems di IIBF 2018. Alhamdulillah keputusan saya tepat, karena ternyata ketika saya selesai membaca Crazy Rich Asians saya begitu penasaran akan kelanjutan kisahnya (khas ade sekali ya) terutama kisah Charlie Wu sih.. huhu.. saya suka banget tokoh Charlie Wu ini (terlebih ketika tahu pemeran di film itu Harry Shum Jr)

IMG_20181001_195228_364

Sinopsis (Dikutip dari Goodreads)

Paperback, 456 pages

Published January 16th 2017 by Gramedia Pustaka Utama (first published June 16th 2015)

Original Title China Rich Girlfriend

Series Crazy Rich Asians #2

ISBN 6020337596 (ISBN13: 9786020337593)

Edition Language Indonesian

Sekarang malam pernikahan Rachel Chu. Ia memakai cincin bermata berlian Asscher-cut, gaun pengantin yang sangat ia sukai, dan memiliki tunangan yang rela kehilangan semua harta warisan demi menikahinya. Namun, gadis itu sedih. Ayah kandungnya, yang tidak pernah ia kenal, takkan mengantarnya menuju altar. Lalu suatu kejadian mendadak membuat identitas pria tersebut terungkap. Dan Rachel pun terseret ke dalam dunia gemerlap Shanghai, yang berisi kemewahan tak terbayangkan dan orang-orang yang bukan sekadar kaya raya–mereka kaya tujuh turunan.

Review

Apakah judul dari seri kedua ini sudah mampu mencerminkan keseluruhan kisah yang ada di buku ini? wah rasanya tidak ya, karena sang “Girlfriend” ini bisa berarti siapa saja, mengingat banyaknya tokoh wanita dalam series ini.

Dengan lika liku panjang, akhirnya Rachel menikah dengan Nick. Namun pernikahan ini tidak tergesa-gesa, butuh waktu 2 tahun bagi keduanya saat memutuskan untuk saling mengikat satu sama lain. keputusan ini mengharuskan seorang nicky untuk memilih antara Rachel atau keluarganya.

Sementara di sisi lain, realita yang ada di buku pertama rupanya masih berkelanjutan, Rachel harus menerima kenyataan sosok ayah kandungnya, dan tentunya beserta keluarga terbarunya. Yang artinya, Rachel harus berkenalan dan menerima sosok keluarganya. Disinilah Rachel menyadari ia memiliki seorang adik, Carlton.

Untuk berkenalan dengan sang keluarga, Rachel dan Nick pun memutuskan untuk mengunjungi Shanghai. Disinilah, berbagai problematika terjadi.

Jika sebelumnya fokus cerita ada di Singapore, namun kali ini fokus itu berada di Shanghai, Hongkong dan sekitarnya.

“Di Hongkong, orang biasa datang terlambat untuk segala hal. Aku pikir shanghai pasti juga sama. Ini masalah harga diri – tidak ada yang ingin datang pertama, takut disangka terlalu kepingin, jadi mereka berusaha saling mengalahkan dalam hal datang terlambat. Yang terakhir tiba dianggap yang paling penting”

Kita akan berkenalan dengan sosok Carlton, keluarga dan juga teman-temannya. Carlton ini menjadi salah satu tokoh favourite saya, setelah Charlie tentunya.

“Aku seharusnya tidak mengirim pesan kepadanya hari ini, dia membatin. Mengapa aku terus melakukan ini terhadap diriku sendiri? Setiap kali mendengar suaranya, setiap kali membaca surel atau SMS darinya, itu benar-benar siksaan bagiku”

Plot dan konflik di seri kedua ini terlihat semakin berkembang. Permasalahan yang belum usai di buku pertama, kembali meluas, dan permasalahan baru pun bermunculan. Rumah tangga Astrid dipertaruhkan. Hubungan Nick dan keluarganya masih menjadi abu-abu. Tidak hanya itu, Rachel pun harus menghadapi kenyataan yang memukul telak dirinya.

Sosok Charlie disini masih menjadi bintang di hati saya, dan saya malah semakin menyukainya.

“Kau adalah salah satu titik terang dalam hidupku yang bisa dibilang terkutuk, dan sekarang lebih daripada sebelumnya, aku mengharapkan persahabatan kita”

Yang pasti pengembangan kisah di buku ini semakin menarik! Semakin membuat penasaran dan semakin ingin membaca kelanjutannya.