Book Review : War Storm – Red Queen #4 by Victoria Aveyard

0

Menuliskan Review dari buku yang belum lama saya baca ini, rasanya ga akan afdol kalo tanpa adegan marah-marah. Kenapa… karena beneran deh ni buku bikin emosi sangat! Pasti sebagian kalian ingin bilang “Kan De.. makanya dari awal udah nyerah aja bacanya,, lagi situ masih ridho banget ngelanjutin” huhu abis gimana,, saya udah JATUH HATI PARAH sama MAVEN, jadi mau ga  mau lanjut baca, udah terlanjur ngoleksi edisi Bahasa inggrisnya pula, jadi kan sayang yah… baiklah langsung aja yuk, ngomelnya di review an berikut…

NOTE ya,,, BAKAL ada sedikit SPOILER di bawah,,, jadi kalau emang kalian ANTI SPOILER banget, mending ga usah baca.. tapi insyaALLAH ga banyak sih spoilernya… dan kalau belum baca buku ke 1-3 , ga usah capek capek baca disini,, jadi ga seru nanti baca buku 1-3 nya…

IMG20180516174345

 Sinopsis

War Storm

Author : Victoria Aveyard

Series : Red Queen #4

Hardcover, 662 pages

Published May 15th 2018 by HarperTeen

ISBN 0062422995 (ISBN13: 9780062422996)

Edition Language : English

Pengkhianatan Cal, Orang yang sangat ia cintai, begitu menghancurkan Mare Barrow. Namun hal ini tak membuatnya menyerah untuk menyelamatkan kaumnya, baik itu Red Bloods atau New Bloods. Dengan terpaksa, ia dan Scarlet Guard, beserta para aliansi yang telah terbentuk bertekad secara bersama-sama untuk menurunkan Maven dari tahta nya.

Namun, dengan aliansi yang terbentuk ternyata tidak semudah itu menghancurkan Maven, terlebih karena Maven yang begitu pintar juga telah membentuk aliansi tersendiri dengan menikahi Putri dari kaum peri, yakni Iris Cygnet.

Mare berjuang dengan seorang yang menghancurkan hatinya untuk menghancurkan orang yang juga menghancurkan dirinya. Tragis memang

Maven sendiri, belum bisa mengenyehkan obsesinya untuk mendapatkan Mare, yang menurutnya sosok yang paling memahami dirinya. Dan Mare tahu benar akan hal ini.

Lalu aliansi siapakah yang terhebat? Siapakah yang akan hancur terlebih dulu? Ini merupakan kisah terakhir dari series Red Queen karya Victoria Aveyard.

 

Review

Bingung mau mulai ngomel darimana, wkwkwkkw….. baiklah…

Dari ending buku ketiga saya agak heran, kenapa harus ada lanjutannya? Apakah ga akan sia-sia di buku ke empat nanti? Karena menurut saya pribadi, harusnya kisah ini bisa selesai sampai buku ketiga. Cukup…

Dan mau dikata apa, karena saya sudah terlanjur kecebur ke series ini, mau ga mau ya tetep nunggu, tetep ga sabar mau ketemu Maven, tetep PO biar langsung dapat buku ini di awal. Kemudian pas buku ini datang, saya shock,,, TEBEL AMAT yak…. Bingung apa yang diceritain disana,,, dan setelah baca…

DUGAAN SAYA BENAR….

Kisah Red Queen memang harusnya cukup sampai di buku ketiga… buku keempat ini,,, apalah ya,, maksa banget. Dari buku awal sampe ketiga, saya muak banget sama ke galauan si Mare, dan di buku ini makin muak aja, oke lah di buku 1 dia masih tampak keren, tapi setelah itu,, helllooooooo…. Saya bingung sama karakter dia, dia powerfull tapi labil, dia ngatain Maven, Cal, padahal dia ga beda,, sama aja. Karakter dia makin annoying banget.

“Cal Chose the Crown. Not Me. Not Us”

Saya masih bingung aja, konsep di buku keempat ini ya mirip sama sebelumnya, ujung-ujungnya Cal kekeuh jadi Raja, jadi apa bedanya sama perjuangan mereka selama ini?

Judul di buku keempat ini WAR STROM kan? Dari judulnya saya mengharapkan sebuah pertarungan yang LUAR BIASA Epic, pertarungan penutup yang keren, yang bikin saya ga lupa sama kisah buku ini. tapi nyatanya? Judul hanyalah sebuah judul. Perangnya ga banget.. astaga……. Cuma ada 1 pertempuran antara Cal dan Iris yang agak keren, selebihnya… BYE…. Gitu doank.. sumpah… saya sedih aja kenapa sih ga di eksplore lebih lanjut ke pertaruangannya? Kenapa ini malah fokus sama kisah-kisah ga penting diluar pertarungan itu?

 “Don’t look at me like that , Tiberias”

“Don’t call me Tiberias”

Dari awal sang penulis memang tipikal yang begitu detail, tapi sayang ke detail an nya dipakai untuk hal-hal yang ga terlalu penting, contohnya nge deskripsiin STEAK aja ampe lebeh, padahal kalau halaman itu dibuang, atau diganti sama yang lebih berbobot kan lebih BAGUS?

Dari segi plot dan alur, awal menanjak, terus tengah sampe ke puncak, abis itu kirain udah menuju ke ending ya, konklusi gitu,, tapi ternyata nggak, malah naik lagi, ke cerita yang ga penting, terus baru turun dengan ending yang luar biasa mengecewakan.

“Love can be exploited, I Guess, Used to manipulated. It’s leverage. But I Would never call loving someone else a weakness. I think libing without love at all, any kind of love is a weakness. And the worst kind of Darkness”

Saat awal baca novel ini, saya berharap banget sang penulis bisa memanfaatkan Tokoh-tokoh nya dengan baik, saya sempat berharap sosok antagonis, Maven ini masih memiliki kisah menawan layaknya Aaron Warner di Shatter Me atau bahkan Teren di The Young Elites, tapi ternyata…… karakter yang begitu kuat ini di sia-sia kan begitu saja.. sungguh sayang

 “Losing People” He Growls, “There’s Never a moment where it goes away, no matter how many times it happens. You Never get used it”

Sementara Cal? Okelah dari awal saya kesel sama dia, tapi di buku ini saya mulai respect , kenapa? Karena dia masih ada itikad baik untuk membantu Maven kembali layaknya Maven yang dulu… sementara Mare? Boro-boro malah jadi kayak kompor meleduk.

“I Want to see him too. I Want to look into his eyes and know that my brother is gone forever”

Kemudian, tokoh-tokoh pendampingnya…. ? Evangeline keren sih, saya juga agak respect sama dia disini, walau tetep terakhirnya karakter dia kayak dihempaskan gitu aja wkwkwkw

Yah intinya, sayang banget deh sama novel ini, Red Queen itu bagus, tapi selanjutnya Sucks! Kings Cage masih agak bagus,,, tapi War Storm ini terparah jelek nya..

Habis baca tuh rasanya bener-bener pengen sumpah serapah…

Satu hal yang bisa saya maafkan dari Novel ini adalah…. Akhirnya ada POV MAVEN dan CAL!!!!!!!!!!! Seneng banget, jadi bisa paham apa yang mereka rasakan…. Huhu

Sekian….

————————– SPOILER ALERT———————————

Seperti yang saya bilang diatas , saya berharap banget sosok Maven itu dapat dimaanfaatkan, di eksplore karakternya, jujur saya sempat berharap Mare sama Maven, atau Maven akan tetap jadi raja yang baik, atau paling tidak sacrifice untuk hal yang lebih baik..

Tapi ternyata….

Kisah akhir Maven bener-bener gitu doank.. ya ALLAH

Saya rela ngelepas Maven, tapi ga kayak gini,, ga bisa di bikin lebih epic atau mengharu biru sedikit?

Dan setelah perjuangan kelabilan Mare dan Cal atau Mare ke Maven, ujung-ujungnya juga dia ga sama siapa-siapa, kan malesin ya

Apaan pula juga endingnya ga jelas, Keluarga Cygnet ga jelas, Eve pergi gitu aja, ah sudahlah….

Eneg kalo diceritain lagi

MAVEN GUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

 

Advertisements

Book Review : The Burning Maze – The Trials of Apollo #3 by Rick Riordan

0

Love Hate Relationship sama Om Rick tuh udah biasa banget ya,, termasuk di Novel Ketiga dari Series Trials of Apollo yang berjudul “The Burning Maze” ini. Ah,,, sehabis baca, kok saya rasanya pengen ngejitak Om Rick saking keselnya.

Inst-image

Sinopsis

The Burning Maze

Author : Rick Riordan

Series The Trials of Apollo #3, Camp Half-Blood Chronicles #13

Hardcover, 431 pages

Published May 1st 2018 by Disney-Hyperion

ISBN 1484746430 (ISBN13: 9781484746431)

Edition Language : English

Kisah ini masih mengenai perjuangan Apollo yang dihukum oleh sang Ayah, Zeus, menjadi seorang remaja bernama Lester Papadopoulus. Untuk kembali menjadi Seorang Dewa di Gunung Olympus, Lester harus menyelamatkan 5 Oracles yang menghilang di dalam dunia hitam. Namun tanpa kekuatan Dewa nya, dan kewajiban untuk menjadi “pesuruh” Anak Demeter bernama Meg, rasanya tugas ini begitu sulit.

Namun, untuk menjalankan setiap misi, Apollo tidak sendiri, kali ini dia dibantu oleh beberapa teman Demigod dari Camp Half Blood (Coba tebak Siapa) dan juga ada beberapa Satyr yang akan membantu tugas Apollo.

Berdasarkan Dark Propechy terakhir yang diterima oleh Meg, Apollo dan Meg harus masuk kedalam Labyrinth dan menyelamatkan sang Oracle yang berbicara melalui teka teki puzzle. Namun, Misi ini tidak semudah itu, selain harus menyelamatkan diri dari Labyrint, Apollo dan kawan-kawan juga harus melawan para Roman Emperors dari Triumvirate.

Lalu bagaimanakah aksi Apollo, Meg dan kawan-kawan lainnya.

“Please explain to me, Why I Always end up falling into dumpsters”

Review

Buku ini, masih mengenai kisah-kisah penyelamatan Oracles, Apollo a.k.a Lester masih seheboh dan se-ngeselin sebelumnya. Kayaknya udah mendarah daging sih kalau ini. Kali ini Apollo akan memasuki Labyrinth.. yess,,, siapa yang rindu Labyrinth ?

Kemudian kita juga akan diajak untuk mengunjungi kediaman masa kecil Meg, nah disini agak sedih sih, finally kita bakal tahu apa yang dialami Meg saat masih kecil.

Sebenernya kalau boleh jujur, buku ketiga ini di setengah bagian awal agak membosankan, karena ya lagi-lagi berkutat dengan misi dan propechy, makanya saya agak lama bacanya. Hehehe.. soalnya memang terkesan banget kisahnya mengulang terus dari awal Percy sampai sekarang.

Tapi… di setengah bagian akhir.. perlahan saya mulai hancur…. Konflik nya mulai naik, pertarungan mulai seru, dan lawaknya… ya udahlah ga usah ditanya…

“No Touchy the god, Unless your visions are good, And you wash your hands”

Sama seperti Buku Pertama dan kedua , kali ini kita juga akan kedatangan pahlawan Demigods dari The Heroes of Olympus Series, sebut saja Piper dan Jason… ayooo shippernyaa berkumpul!!! Saya seneng banget sih ketemu mereka lagi disini, walau ya,, semua tak lagi seindah dulu, cailah, kalau mau tau apa silahkan di baca sendiri bukunya,, saya ga mau spoiler..

“Let’s Charmspeak battle. You are ugly and you suck, the end. Do I Win?”

Di buku ini kemampuan Meg semakin hebat, seneng deh bacanya, dia jadi bisa ini itu, dan Lester semakin Manusiawi, semakin dewasa, semoga suatu saat ketika dia kembali jadi Dewa, dia bisa ingat ya susah nya jadi manusia, jadi ga bikin repot demigod terus.

“ You Can Choose how much your ancestry to embrace. You can overcome the expectations of your family and your society. What you can not do, and should never do, is try to be someone other than yourself”

Yang pasti, walaupun buku ini masih menggunakan metode yang terbilang sama baik dari sisi konflik dan plot, namun ada satu hal yang sangat saya tidak sangka akan dilakukan om Rick. Sungguh,,, baru kali ini om rick separah ini, dan makasih banyak om, saya sukses nangis berhari-hari dan bengong bego setelah menamatkan novel ini.

Sekarang saya masih harus menunggu satu tahun lagi untuk baca buku keempat. Tak sabar memang, tapi di sisi lain, saya juga takut, takut sehancur baca buku ketiga ini..

Oh ya, saya sukaaaaaaaaaaaaaaaa banget sama Cover buku ketiga ini,, bagus banget, parah hijau nya cantik dan ada kombinasi kuningnya makin bikin keren! Penasaran cover buku keempat kayak apa ya.. karena sebenarnya memang dari buku kesatu sampai ketiga bagus semua sih covernya

Pesan saya kepada para pembaca semua, jangan buka IG atau Twitter dan mengklik hastagh #TheBurningmaze ya,, karena benar-benar FULL SPOILER, dan nanti ga seru lagi bacanya…

Have fun…..

Bye

Merenung lagi…

 

Book Review : Not If I See You First by Eric Lindstrom

0

Beberapa waktu lalu, Penerbit Spring kembali menerjemahkan sebuah novel yang Unik, dalam artian bukan sekedar kisah young adult romansa biasa, tapi ada sesuatu yang lain. Khas nya spring ya… mungkin untuk penggemar penerbit ini, sudah biasa dikejutkan oleh Novel-Novel Terjemahan dengan tema yang berbeda. Demikian halnya terhadap sebuah novel yang selesai saya baca beberapa waktu lalu “ Not If I See You First” karya Eric Lindstrom yang mengangkat Tema “Orang Buta”.

Jujur saja saat awal membacanya, saya agak skeptis, orang buta? Lalu bagaimana dia mengungkapkan kisahnya? Karena selama ini mayoritas kisah diceritakan melalui indera penglihatan bukan? Disinilah letak keunikannya…

IMG20180426122515

Sinopsis (Dikutip dari Goodreads)

Paperback, 376 pages

Published January 2018 (first published December 1st 2015)

Original Title : Not If I See You First

ISBN13 : 9786026682154

Edition Language : Indonesian

Jangan bersikap aneh.

Serius, selain buta, aku sama sepertimu, hanya lebih pintar.

Parker Grant tidak perlu mata untuk melihat orang lain. Karena itulah, ia membuat peraturan yang tidak boleh dilanggar. Tidak akan ada kesempatan kedua bagi pelanggarnya. Tanya saja Scott Kilpatrick, cwok yang pernah melukai hatinya.

Saat Parker sadar Scott tiba-tiba muncul kembali dalam, kehidupannya, reaksi pertamanya adalah mengusir Scott. Ia sudah punya banyak pikiran, mulai dari menjadi tim lari, sampai memberikan nasihat cinta kepada teman-temannya. Hal itu membantunya untuk melupakan kematian ayahnya.

Namun, mengapa menjauhi Scott terasa menyakitan?

Mungkin, hanya mungkin, peraturan itu ada untuk dilanggar.

 “Setiap orang adalah sebuah rahasia”

 

Review

Butuh waktu beberapa saat untuk saya menyukai novel ini, karena yah saya harus beradaptasi dengan sosok tokoh utama, Parker Grant. Dengan kekurangan dirinya dari segi penglihatan, Parker ini memiliki sifat yang agak sedikit Annoying, sedikit sih… terutama karena ke Egosentrisannya… Rasanya seluruh dunia harus berputar dan berfokus untuknya. Tapi setelah berkenalan lebih lanjut terhadap tokoh ini, saya pun mulai menyukai tokoh ini, dengan percaya diri dan optimis nya. Walau buta, bukan berarti ia tidak bisa bergaya, saya cukup salut dengan ide nya menggunakan tutup mata. Nyentrik memang, tapi inilah ciri khas seorang Parker.

Berbicara mengenai plot cerita, sebenarnya kisahnya cukup standard, romansa memang, namun dengan sosok tokoh utama yang tidak biasa, kisah romansa nya pun menjadi juga tidak biasa. Saya diajak Parker untuk memahami, apa yang dirasakan orang buta, bagaimana ia melihat dunia dengan hatinya, bagaimana ia merasakan perasaan orang sekitarnya walau tidak bisa melihatnya.

“Dan seperti saat ini, sebenarnya yang kurindukan adalah apa yang kupikir kumiliki, bukan apa yang benar-benar kumiliki”

Pengembangan karakter tokoh utama juga cukup baik, dari awalnya annoying jadi semakin dewasa. Kisah yang diceritakan pun tidak memaksakan. Walau sebelumnya saya menyebutkan mengenai kisah romansa, namun romansa nya tidak berlebihan juga, bahkan cukup manis menurut saya.

“Orang-orang penuh dengan hal-hal yang tidak kau ketahui, tapi bukan berarti mereka adalah rahasia; Kau hanya belum tahu semuanya”

Tokoh yang mencuri perhatian tentu saja Scott, dari awal dia muncul saya cukup penasaran, seperti apa hubungan masa lalu antara dirinya dengan Parker, dan ternyata… waahhhh ….. kalian harus baca…

Yang pasti, kita tidak hanya disuguhkan oleh kisah romansa, perjuangan hidup seorang buta, namun juga bagaimana kehangatan persahabatan dan kekeluargaan. Salah satu paket lengkap. Tidak ada salahnya untuk membaca buku ini, saya yang awalnya skeptis pun malah jatuh hati.

 

Book Review : Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona!

0

Seperti biasa, Ade gengges kalau udah berurusan sama Morgan. Jadi ceritanya, Morgan Syuting film baru, eh ternyata Film ini diadaptasi dari Novel. Jadilah si Ade heboh sampe berkelana ke Lapak buku bekas untuk cari Novel berjudul “Travelers Tale Belok Kanan : Barcelona!” ini. soalnya, Novel yang diterbitkan tahun 2007 ini sudah tidak beredar di pasaran, jadi kebayang nyari nya.. arghhhh… untung dapat edisi bekas tapi masih baguuuuss…  yuk cuss kita bacaaa….

IMG_20180421_111654

Sinopsis (Dikutip dari Goodreads)

Original Title : Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona!

Penulis : Adhitya Mulya, Ninit Yunita , Alaya Setya, Iman Hidajat

Paperback, Cetakan pertama, 230 pages

Published 2007 by Gagas Media

ISBN : 9797800946 (ISBN13: 9789797800949)

Edition Language : Indonesian

Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah.

Mereka tumbuh besar dan bekerja di negara berbeda. Masalah dimulai ketika Francis mengirimkan undangan kepada tiga sahabatnya bahwa dia akan menikah dengan gadis Spanyol di Barcelona. Masing-masing pergi menuju Barcelona meski dengan budget terbatas dari penjuru yang berbeda dengan misi tersendiri. Mencari jawaban untuk pertanyaan masing-masing.

“Gue Percaya, gue ga akan bisa tau rasanya sesuatu kalau belum pernah merasakan sendiri. Bagi gue, pengalaman itu Priceless”

Review

Awal tahu novel ini, saya senang, kenapa? Karena dari judulnya aja travelers tale, kebayang donk bagi saya yang juga suka Traveling, berharap banyak kisah seru para Travelers disanaa…

Kisah di novel ini terbilang standard.. persahabatan, jatuh cinta satu sama lain, terus bingung deh. Cuma kan ya, biasanya kalau jatuh cinta antara 2 sahabat aja ga ribet, lah ini 4 sahabat terus sukanya beda-beda lagi ga sepasang langsung. Kan ribet yaaaaaa…. Disini letak menariknya.

“Banyak orang bilang, lama bersahabat dengan lawan jenis akan membuat kita hilang rasa. Itu tidak terjadi pada gue terhadap Farah”

Awal cerita dimulai dari Email Francis ke sahabat nya, yang mengungkapkan bahwa ia akan segera menikah di Barcelona, dengan gadis spanyol, bukan salah satu dari 2 sahabatnya. Kebayang donk kembang kempisnya Farah dan Retno gimana? Belum lagi Jusuf yang juga kembang kempis takut Farah ngungkapin rasa ke Francis.

“Lebih baik menelan pil pahit dan bersahabat dengannya karena jika dia menjauh. Itu lebih menyakitkan. Jadilah gua hidup dengan membohongi diri gua sendiri. The Lies We Live In”

Alhasil karena email singkat itu, ketiga sahabat Francis, nekat untuk melanglang buana sampai Barcelona, pasalnya mereka ada di Negara yang berbeda-beda. Dengan budget terbatas petualangan mereka sebagai solo travelers pun di mulai.

Solo Travelers? Yes… disinilah kocaknya, terutama kisah perjalanan Jusuf alias si ucup. Asli ya, ucup ini SCENE STEALER parah!!!! Suka banget sama karakternya yang fun ga tau malu tapi care banget sama orang yang dia sayang. Dan perjalanan ucup menuju Barcelona itu.. ah.. asli bikin ngakak sekaligus kasihan banget.

Kalau perjalanan Farah apalagi Retno terbilang biasa ya… karena mereka wanita kan, jadi mostly perjalanan mereka adalah perjalanan yang aman, dan cantik.

Sementara Francis? Yah karena semua perjalanan yang dilakukan menuju ke Francis, jadi kisah traveling Francis sendiri tidak terlalu diceritakan, kebanyakan justru bagaimana kisah francis menuntaskan hatinya. Cailah…

Kisah di novel ini sebenarnya bisa di duga sih, ketebak banget gitu lah sampai akhir. Tapi entah tetap fun aja bacanya, walau singkat banget jadi ga detail. Sayangnya disitu sih. Padahal saya berharap lebih di eksplore kisah persahabatan keempatnya, dan terutama edisi travelingnya.

Yang bikin saya salut sama novel ini adalah penulisnya, novel ini ditulis oleh 4 penulis loh, kebayang ribetnya kayak apa yakan, tapi ga kelihatan loh pas baca. Mulus banget pengisahannya.

Saya suka banyak footnote mulai dari yang ngebanyol sampai yang serius, ada juga beberapa tips perjalanan yang makin bikin mupeng pengen traveling pas baca.

Pastinya saya agak kecewa, karena novel ini terlalu tipis, terlalu terburu-buru, terlalu memaksakan kisah akhirnya. Padahal kalau dibikin lebih panjang, konfliknya lebih dalam, mungkin akan semakin menarik.

Tapi overall, buku yang bagus untuk dibaca kok! Ga sabar buat nonton filmnya, kayaknya bakal se fun novelnya!

“Barang habis dijual beli. Tapi pengalaman tidak akan pernah habis untuk diingat dan diceritakan”

PS : para Pemainnya itu, Morgan Oey, Deva Mahenra, Mikha Tambayong dan Anggika Bolsterli. Coba tebak siapa jadi siapa?